Dari umur belasan, saya sudah terpapar dengan lingkungan yang suka membaca. Tidak ada ruangan di rumah yang tidak ada bukunya. Jenis buku yang paling saya sukai dulu adalah fiksi. Namun sekarang, saya juga bisa menikmati buku-buku nonfiksi. Menurut saya, keduanya sama-sama memiliki manfaat.

Awalnya, mudah bagi saya untuk tertarik pada buku fiksi. Di sekolah-sekolah saya sebelumnya pun saya semacam memiliki geng baca yang non-stop membicarakan satu trilogi yang happening di masanya, The Hunger Games. Hampir setiap pagi kumpul untuk saling tanya sudah baca sampai bab berapa dan akhirnya ketika trilogi tersebut difilmkan, kami memutuskan untuk nonton bersama.

Dulu saya hobi membaca teenlit. Salah satu judul yang paling membekas adalah Life On The Refrigerator Door. Berkisah tentang hubungan anak perempuan dan ibunya yang jarang bertemu karena kesibukannya masing-masing, sehingga harus meninggalkan pesan dan bercerita tentang kesehariannya lewat memo yang ditempel di kulkas. Selain itu, yang cukup terkenang adalah Jurnal Jo dan serial Lovasket.

Selain novel, saya juga suka membaca komik. Miiko dan Yotsuba&! adalah dua judul favorit saya. Semasa SD, saya juga memiliki teman yang juga membaca kedua judul itu dan selalu saling cerita dan memastikan mereka sudah baca atau belum. Begitulah.

Ada banyak manfaat yang saya dapat dari membaca buku fiksi. Membaca buku fiksi membuat saya terlatih berimajinasi, apalagi untuk buku-buku yang latar-nya bukan di bumi, atau di bumi tapi post-apocalypse. Selain itu, saya bisa belajar tentang hubungan-hubungan manusia melalui interaksi antar tokoh. Buku fiksi juga bisa menjadi topik pembicaraan ketika berkenalan dengan orang baru. Selain itu, tentunya baca fiksi cukup membuat rileks.

Kemudian saya bosan dengan kisah-kisah fiksi. Terlalu tidak mungkin, terlalu imajinatif. Plot-plot benci jadi cinta, plot-plot geng-gengan, dan plot klise lainnya. Belum lagi latar belakang seperti Hogwarts, Panem, dan wilayah-wilayah Post-Apocalypse lainnya. Bukannya saya tidak menghargai imajinasi mereka semua, saya hanya bosan. Saya juga sadar bahwa ada fiksi yang berangkat dari kisah nonfiksi.

Salah satu contoh fiksi yang berangkat dari kisah nonfiksi adalah The Hunger Game. Saat masih di bangku SMP, saya menulis tentang Alih Wahananya The Hunger Games. Ketika membuat karya tulis itu, saya cukup banyak membaca tentang latar belakang Suzanne Collins menulis universe itu. Ternyata, banyak faktor yang diambil dari mitologi-mitologi. Tokoh-tokoh dalam fiksi sebetulnya bisa juga jadi simbol dari hal-hal yang nonfiksi.

Saya mulai belok ke rak-rak di toko buku yang sebelumnya belum pernah saya tongkrongi. Jadilah saya menemukan beberapa buku yang menarik. Buku-buku yang bercerita tentang orang lain; orang nyata. Buku-buku yang bercerita tentang opini tokoh-tokoh. Ada pula buku-buku pengetahuan seperti komik tiga menit yang informatif. Ada pikiran yang terus menerus mengatakan pada saya, “Hidup yang kau jalani ini bukan fiksi.”

Kini saya jadi lebih sering membaca buku-buku nonfiksi dan kebanyakan memoar (memoir). Tiga judul memoir yang membekas dan berkesan bagi saya adalah Tuesdays with Morrie karya Mitch Albom, The Year of Yes karya Shonda Rhimes, dan The Art of Asking karya Amanda Palmer. Ketiga buku itu saya baca di umur penutup kepala satu. Walaupun sebetulnya buku itu sudah ada di saat saya berumur belasan tahun awal, saya merasa tepat karena saya membaca buku-buku itu jauh setelah buku-buku itu terbit. Sesekali saya menyelipkan baca fiksi atau setidaknya buku-buku puisi di antara buku nonfiksi. Namun, kecintaan saya terhadap buku-buku nonfiksi semakin meningkat dan saya pun semakin menjadi hoarder yang tidak merasa bersalah sedikit pun.

Membaca buku nonfiksi membuka wawasan saya tentang banyak hal. Lebih dari sekadar memperluas wawasan, buku nonfiksi mengajak saya untuk berpikir kritis. Ilmu yang didapat bisa jadi modal pengembangan diri.

Semua buku mengandung nilai dan ilmu. Terkadang, kita saja yang terlalu sibuk dengan perasaan yang buku itu berikan pada kita, seperti rasa sedih ketika si A dan si B harus putus karena ada si C, atau rasa marah ketika akhirnya si Z memutuskan untuk membunuh Y setelah tujuh tahun berteman. Ada juga nilai-nilai sosial yang dikandung buku-buku fiksi. Dari buku-buku nonfiksi saya belajar lebih dan saya berharap kalian juga.